Tantangan dalam Influencer Marketing dan Cara Mengatasinya
Kenali berbagai tantangan dalam influencer marketing, mulai dari pemilihan talent hingga ROI, serta strategi efektif untuk mengatasi semuanya!

Influencer marketing telah menjadi salah satu strategi paling efektif dalam dunia pemasaran digital. Dengan bantuan para influencer, brand dapat menjangkau audiens secara lebih personal dan autentik.
Namun, seperti strategi pemasaran lainnya, influencer marketing tidak lepas dari berbagai tantangan sehingga dapat berdampak negatif pada reputasi dan performa kampanye. Artikel ini membahas berbagai tantangan utama dalam influencer marketing!
1. Ketidaksesuaian antara Brand dan Influencer
Tantangan:
Salah satu kesalahan paling sering terjadi adalah kolaborasi antara brand dengan influencer tidak sejalan secara nilai, citra, atau gaya komunikasi. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan bagi audiens dan bahkan memicu reaksi negatif jika influencer tersebut memiliki riwayat kontroversial.
Cara Mengatasinya:
Sebelum menjalin kerja sama, lakukan riset mendalam mengenai profil influencer. Evaluasi konsistensi konten mereka, rekam jejak digital, serta hubungan mereka dengan audiens. Pastikan nilai-nilai yang mereka anut sejalan dengan brand image kamu.
2. Stealth Marketing & Kurangnya Transparansi
Tantangan:
Promosi terselubung (stealth marketing), di mana influencer tidak mengungkapkan bahwa konten adalah bagian dari kerja sama berbayar, bisa menciptakan ketidakpercayaan dari audiens. Banyak konsumen merasa tertipu ketika mengetahui konten tersebut bersifat komersial tanpa ada penjelasan sebelumnya.
Cara Mengatasinya:
Terapkan transparansi sebagai prinsip utama dalam influencer marketing. Minta influencer untuk secara eksplisit menyertakan tagar seperti #iklan, #sponsored, hingga #ad. Selain menjaga kepercayaan audiens, langkah ini juga penting untuk mematuhi regulasi periklanan di banyak negara.
3. Pelanggaran Aturan & Etika Promosi
Tantangan:
Beberapa influencer, baik karena ketidaktahuan maupun kelalaian, dapat mempromosikan produk dengan cara menyalahi aturan — misalnya mengklaim manfaat medis tanpa bukti, atau menggunakan bahasa menyesatkan.
Cara Mengatasinya:
Sediakan panduan tertulis dalam strategi influencer marketing agar influencer mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan dalam promosi. Sertakan pula persyaratan hukum atau etika berlaku, terutama jika produk tersebut termasuk kategori sensitif seperti suplemen, kosmetik, hingga layanan keuangan.
4. Konten Menyinggung/Tidak Peka Sosial
Tantangan:
Di era media sosial, sensitivitas terhadap isu sosial semakin tinggi. Konten menyinggung ras, gender, budaya, maupun kondisi sosial tertentu bisa memicu backlash besar terhadap brand, meskipun kesalahan dilakukan oleh influencer.
Cara Mengatasinya:
Libatkan tim komunikasi/tim legal untuk meninjau konten sebelum dipublikasikan, terutama jika kampanye menyasar beragam audiens. Latih juga influencer dalam memahami pentingnya inklusivitas dan empati dalam menyampaikan pesan.
5. Perubahan Gaya Influencer Secara Tiba-Tiba
Tantangan:
Dalam influencer marketing, terkadang influencer mengubah gaya bicara maupun cara mereka menyampaikan pesan hanya demi menyesuaikan dengan arahan brand. Ini bisa menyebabkan konten terasa tidak alami, membuat audiens curiga atau merasa kehilangan kedekatan dengan influencer tersebut.
Cara Mengatasinya:
Berikan influencer kebebasan kreatif untuk menyampaikan pesan dengan cara mereka sendiri, selama tidak melanggar panduan brand. Autentisitas adalah kunci — audiens lebih mudah terhubung dengan promosi yang terasa jujur atau personal.
6. Krisis Reputasi (Flaming) Secara Tiba-Tiba
Tantangan:
Flaming, atau krisis di media sosial, dapat muncul secara tiba-tiba. Kesalahan sekecil apapun — baik dari brand maupun influencer — bisa berkembang menjadi perbincangan publik yang merugikan.
Cara Mengatasinya:
Siapkan rencana darurat untuk krisis digital, termasuk siapa yang harus merespons, pesan apa yang akan disampaikan, atau saluran mana yang digunakan. Selain itu, monitoring media sosial secara aktif sangat penting agar potensi masalah dapat diidentifikasi sejak dini.
7. Tidak Ada Dampak Nyata pada Penjualan
Tantangan:
Tidak semua kampanye influencer langsung menghasilkan peningkatan penjualan. Terkadang konten hanya menghasilkan impresi serta interaksi tanpa konversi nyata.
Cara Mengatasinya:
Tetapkan tujuan secara jelas sejak awal — apakah kampanye bertujuan meningkatkan awareness, engagement, atau konversi. Gunakan parameter relevan untuk mengukurnya, seperti kode kupon khusus, tautan UTM, atau survei pasca-pembelian.
8. Kesulitan Mengukur ROI Kampanye
Tantangan:
Mengukur efektivitas kampanye influencer marketing tidak selalu mudah. Banyak brand masih kesulitan menentukan seberapa besar pengaruh kampanye terhadap hasil bisnis.
Cara Mengatasinya:
Gunakan platform analytics sehingga mampu melacak performa konten, klik, dan konversi secara detail. Bandingkan biaya dengan hasil aktual (return on investment). Selain metrik kuantitatif, pertimbangkan juga metrik kualitatif seperti sentimen publik ataupun loyalitas pelanggan.
Penutup
Influencer marketing memang menyimpan banyak potensi, tetapi juga penuh tantangan. Kunci suksesnya bukan hanya pada pemilihan influencer populer, melainkan pada kemampuan brand dalam mengelola kerja sama tersebut secara strategis, etis, serta transparan.
Temukan kunci sukses lainnya bersama PopStar jika ingin mengatasi tantangan dalam influencer marketing! Hubungi kami melalui formulir ini!
Ready to Transform Your Marketing?
Discover how PopStar Influencer's AI-powered platform can revolutionize your brand's marketing strategy.