5 Kesalahan Pemilik Brand Dalam Memilih Influencer

December 30, 2022

5-kesalahan-pemilik-brand-dalam-memilih-influencer banner

Sebagai seorang pemilik brand, teknik influencer marketing untuk meningkatkan reputasi brand tentunya tidak asing di telinga. Namun, memilih influencer itu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. 

Selain butuh perencanaan yang tepat, waktu dan tenaga yang dihabiskan untuk mencari, menghubungi, menawarkan, mengkurasi konten, proses negosiasi, sampai akhirnya konten berhasil di-post merupakan proses yang tidak singkat.

Dengan begitu banyaknya influencer di media sosial, tantangan terberat brand adalah menemukan influencer mana yang cocok untuk mempromosikan produkmu. Tidak jarang brand memilih influencer yang tidak cocok dengan brand sehingga tujuan awal dari influencer marketing tidak tercapai.

Free photo young woman wear glasses and shop on smart phones
source: freepik.com

Menurut Statista, 62% masyarakat Indonesia terpengaruh oleh rekomendasi influencer sebelum membeli barang. Itu artinya, kemampuan influencer di media sosial untuk bisa mempengaruhi pembelian produk sangat tinggi. Bahkan, tidak jarang ketika influencer menge-post sesuatu review produk, followers yang awalnya tidak merasa butuh kemudian membeli produk tersebut.

Influencer juga dapat membantu upaya edukasi brand terhadap suatu produk. Misalnya dengan kampanye Oreo pada tahun 2017 “diputar, dijilat, dicelupin” Oreo telah berhasil mengajarkan cara asyik dalam mengonsumsi produk dan diikuti oleh berbagai influencer terkenal di media sosial.

Namun ternyata tidak semua influencer memiliki kemampuan untuk mempengaruhi pembelian produk.

Pada tahun 2019 lalu, seorang instagram influencer dengan followers sebanyak 2,6 juta orang gagal menjual produk t-shirt lewat postingannya di media sosial. Renee, seorang selebgram dari Miami, Amerika Serikat ditargetkan menjual minimal 36 t-shirt oleh perusahaan yang memproduksi kaosnya. Ternyata Renee gagal mencapai target tersebut, padahal dengan followersnya yang berjumlah bombastis seharusnya menjual 36 t-shirt mudah dilakukan. Hal tersebut mengundang kritik dan analisis dari berbagai ahli marketing dan juga influencer media sosial. Banyak yang menyalahkan Renee karena kurang mempromosikan produknya, dan tidak sedikit juga yang menyalahkan upaya marketing yang tidak matang.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui hal-hal yang membuat influencer marketing gagal untuk bisnis atau brand yang kamu miliki.

Kesalahan yang paling sering dilakukan

Berikut adalah 5 kesalahan yang paling sering dilakukan pemilik bisnis dalam memilih atau mencari influencer. Semoga bisa dihindari ya!

  1. 1. Salah memilih platform influencer
    Sebelum memilih influencer, brand perlu mengetahui target market dari produk yang akan dipromosikan paling banyak ada di platform apa. Platform yang cocok untuk bisnis fashion muslim tertentu bisa jadi berbeda dengan platform yang cocok untuk bisnis makeup, walaupun keduanya saling berkaitan.

    Contoh lainnya apabila target market dari produk kamu adalah wanita atau pria berusia di atas 50 tahun, kemungkinan media sosial yang paling tepat untuk brand kamu adalah di Facebook.

    Menurut Statista pada tahun 2022, pengguna TikTok mayoritas berusia 18-24 tahun. Pengguna TikTok juga berkembang sangat pesat sehingga semua brand berlomba-lomba menggunakan TikTok untuk meningkatkan presensi digital. Apabila brand kamu memiliki target audience sekitar 18-24 tahun, maka platform TikTok atau Instagram merupakan pilihan tepat.

    Oleh karena itu tentukan platform yang tepat sesuai dengan target market produk kamu sebelum mencari influencer ya.
     
  2. 2. Langsung melihat angka
    Angka yang terkait dengan performa influencer biasanya adalah angka followers, engagement rate, jumlah comments, likes, dan sebagainya. Namun langsung terjun memilih influencer hanya berdasarkan angka-angka ini bukanlah merupakan pilihan yang tepat. 

    Seperti yang kamu ketahui, bahwa influencer juga terdiri dari beberapa tier sesuai dengan angka followers. Mega (500.000-1.000.000 followers), macro (100.000-500.000 followers), mikro (10.000-100.000 followers), dan nano influencer (500-10.000 followers) memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri dalam mempromosikan produk.

    Pasalnya, angka-angka ini terkadang tidak mencerminkan kualitas dari influencer itu sendiri. Sebelum melihat angka-angka tersebut, coba lihat dahulu persona influencer yang kamu butuhkan. Influencer dengan karakteristik seperti apa yang kamu inginkan mempromosikan produkmu.

    Contoh, kamu adalah pemilik brand pengharum mobil. Influencer yang bisa cocok dengan produkmu adalah influencer yang sering bepergian naik mobil, suka wewangian, menjaga penampilan, dan lainnya. Perhatikan influencer-influencer yang sedang menge-post hal-hal yang relevan dengan brand kamu.

    Barulah fokus mencari influencer dengan followers tertentu yang memiliki karakteristik tersebut. Dengan cara ini, brand kamu dapat menjalin keintiman dengan target market dan promosi produknya lebih natural.

  3. 3. Salah memilih trend dan relevansi terbaru
    Trend di media sosial sangat cepat berganti. Trend yang viral di bulan lalu, bisa saja bulan ini turun dengan cepat. Pentingnya untuk ride the wave harus dibarengi dengan relevansi terhadap produk yang dimiliki.

    Apakah kamu tahu trend influencer “Kamu nanyeak?” yang sempat heboh beberapa waktu lalu? Bayangkan apabila ada influencer yang menggunakan jargon tersebut pada kampanye sebuah produk yang ditargetkan untuk masyarakat berusia di atas 45 tahun dengan tingkat ekonomi kelas atas. Tentunya hal tersebut akan salah sasaran.

    Contoh lainnya adalah menyewa influencer yang sedang naik daun dikarenakan sebuah skandal. Ada alasannya kenapa brand-brand menghindari influencer yang rentan skandal, dikarenakan nama baik brand bisa tercemar. Tapi tidak sedikit juga brand yang malah memanfaatkan kesempatan ini untuk mempromosikan produknya lewat influencer tersebut. Tentunya strategi ini harus dipikirkan dengan baik-baik.

    Penggunaan yang tepat bisa meningkatkan performa brand. Misalnya, dengan mengikuti challenge tertentu yang disesuaikan dengan brand communication strategy, atau menggunakan musik yang sedang trending dan viral untuk membuat konten.

    Intinya, trend adalah sesuatu yang bisa digunakan brand untuk meningkatkan presensi digital, namun harus direncanakan dengan matang agar tidak merusak persepsi brand di jangka panjang.

  4. 4. Brief yang terlalu rumit atau kurang tepat
    Brief yang diberikan kepada influencer sangat menentukan keberhasilan dari kampanye iklan produk yang dijalankan. Apabila brief yang diberikan terlalu kaku, misalnya, akan membatasi kreativitas influencer dalam membuat konten. Sebaliknya apabila brief yang diberikan terlalu bebas, influencer bisa menyampaikan pesan yang melenceng dari maksud brand.

    Brief promosi produk yang memiliki kerumitan tinggi memerlukan edukasi lebih mendalam dan komitmen yang lebih rendah. Usahakan membuat brief yang sesuai dengan iklan produk namun juga tidak terlalu kompleks sehingga mudah diikuti oleh influencer.

    Contohnya brief iklan produk di mana influencer harus membeli produk di suatu tempat dan atau peminjaman produk hanya saat masa promosi berlangsung. Akan lebih baik apabila detail brief tersebut dituangkan dengan jelas dan dijelaskan secara langsung kepada influencer. Terutama mekanisme pengembalian produk, pembayaran ongkos kirim, refund, dan lainnya.

    Content brief dan scope of work influencer harus dijabarkan dengan jelas namun juga sebaiknya memiliki ruang untuk berkreasi. Pengguna media sosial kini lebih memilih untuk mempercayai konten influencer yang tidak terlalu berkesan “hard selling” dan lebih natural.

  1. 5. Tidak memiliki sumber daya untuk mengurus influencer
    Mengurus influencer marketing memang tidak mudah, karena prosesnya bisa panjang dan rumit. Mencari influencer, menghubungi influencer, menawarkan kerjasama, melakukan negosiasi, menjelaskan brief dan scope of work, kemudian menerima konten dan mengajukan revisi sebelum akhirnya dipublish.

    Keseluruhan hal ini masih saja bisa gagal karena strateginya kurang matang atau eksekusinya tidak dijalankan maksimal. Biasanya kamu harus memiliki tim khusus yang fokus mengurus influencer apalagi kalau bisnis kamu adalah bisnis yang memiliki potensi bagus menggunakan influencer marketing

PopStar, solusi influencer marketing

Menggunakan influencer marketing agency atau platform merupakan pilihan yang tepat untuk kamu yang sibuk atau tidak memiliki tim influencer marketing khusus. Influencer marketing agency akan membantu kamu dalam melaksanakan influencer marketing mulai dari pemilihan influencer, teman berdiskusi, hingga memberikan pelaporan hasil kerja influencer.

Kamu bisa fokus mengerjakan kegiatan marketing dan branding lainnya sementara influencer marketing agency atau platform melakukan pekerjaan terbaik dalam mendukung brand kamu.

PopStar merupakan influencer marketing platform yang dapat menangani seluruh kebutuhan influencer marketing untuk brand. 

Influencer-influencer yang terdaftar di platform PopStar terdiri dari berbagai kategori dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sejumlah 650.000 influencer PopStar siap mempromosikan produk kamu.

Klien-klien yang telah bekerjasama dengan PopStar mulai dari perusahaan multinasional hingga UMKM. Selain terpercaya, tim expert PopStar juga bisa menjadi tempat berdiskusi mengenai strategi influencer marketing yang kamu miliki.

Apabila kamu membutuhkan informasi lebih lanjut terkait influencer marketing, silakan mengunjungi link ini dan tim PopStar akan segera menghubungi kamu!

section three background

Work with PopStar!

Start your Influencer Marketing Campaign and work with the top Instagram, TikTok, and Facebook influencers in the Indonesia and Philippines!